Tampilkan postingan dengan label Japan Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japan Culture. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Februari 2013

Musim Gugur


Kebiasaan Orang Jepang di Musim Gugur


Teman Jepang saya menulis email dan mengabarkan tentang Jepang yang memerah karena daun-daun di musim gugur mulai berubah warna. Saya teringat saat berada di sana, pada bulan-bulan inilah kami akan selalu mencari lokasi yang menarik untuk menonton momiji atau yang dikenal dengan momiji gari (紅葉狩り).
Saya mendapatkan tugas untuk mengajar Nihon Jijou (日本事情) dan Nihon Bunka Nyuumon (日本文化入門) kepada mahasiswa D3 dan S1 Sastra Jepang UNDIP. Sekalipun sudah pernah diajarkan sebelumnya oleh rekan dosen yang lain, kali ini berdasarkan saran dari expert JICA yang ditugaskan di tempat kami, mata kuliah ini akan mencakup gambaran kehidupan orang Jepang dari musim ke musim. Saya menggunakan buku text book Kisetsu de manabu Nihon go (季節で学ぶ日本語). Buku tersebut sangat baik dalam menggambarkan kehidupan orang Jepang dalam setahun, sekalipun cukup berat untuk diberikan kepada mahasiswa yang baru menguasai bahasa Jepang level basic.
Tetapi saya memutuskan menggunakan buku tersebut beserta beberapa informasi yang saya dapatkan dari internet dan buku-buku lain untuk menjelaskan tentang perkuliahan di atas, karena terpikir bahwa sekalipun kemampuan bahasa belum mencapai level intermediate, mahasiswa akan belajar banyak kosakata baru. Saya pun selalu melengkapi slide power point dengan daftar kosakata. Memang saya tidak dipaksa menggunakan bahasa Jepang dalam kuliah ini, karena tujuan utamanya sebenarnya memperkenalkan tentang budaya dan tradisi orang Jepang dalam setahun. Tetapi saya lagi-lagi mempertimbangkan aspek atmosfer belajar yang akan mendorong seseorang semakin menguasai sebuah bahasa, maka saya memutuskan menggunakan bahasa pengantar bahasa Jepang, dan sedikit bahasa Indonesia.
Ketika saya berangkat ke Jepang, saya juga masih berada pada level nol. Sama sekali tidak mengerti bahasa Jepang. Saya pikir yang membuat saya cepat menguasai bahasa tersebut adalah karena sehari-hari hanya bahasa itu yang masuk ke telinga saya. Hanya huruf-huruf Jepang yang setiap hari terlihat oleh mata saya, sehingga barangkali karena itu dengan cepat saya bisa menguasainya. Maka saya ingin mengupayakan atmosfer tersebut bagi para mahasiswa.
Dalam kuliah Nihon Jijou, kami mempelajari tradisi dan kebiasaan orang Jepang sesuai dengan bulannya. Jadi, pada saat awal semester hingga masuk ke ujian tengah semester (bulan September-Oktober), kami mempelajari tentang kebiasaan di musim gugur. Tanggal 1 September adalah hari pengendalian bencana di Jepang, maka pada kuliah kedua kami membahas tentang tata cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa, angin topan, tsunami, dan kebakaran. Pertengahan September, tanggal 15, dikenal pula sebagai waktu purnama yang terindah. Maka pada saat itu, banyaklah orang Jepang yang menikmati sinar bulan, yang dikenal dengan istilah tsukimi (月見)sambil menikmati kue moci tsukimi. Pada bulan September juga hawa masih sangat nyaman untuk berkumpul, maka dilakukan pula pertemuan dengan para orang tua, untuk mendengarkan masukan mereka tentang pembangunan desa. Hari itulah yang dikenal sebagai Keirou no hi (敬老の日).
Pada bulan Oktober, orang Jepang menyelenggarakan undokai (運動会) atau pesta olahraga. Jadi pada saat kuliah ketiga dan keempat, kami membahas tentang kebiasaan dan pandangan orang Jepang terhadap olahraga. Dalam pesta olahraga yang sering diselenggarakan di TK dan SD, orang tua sering ikut terlibat berlomba bersama anak-anak. Hari itu bukan sekedar pertandingan olahraga, tetapi sekaligus hari keluarga. Kuliah kelima diisi dengan materi Ifuku (Pakaian Tradisional Jepang). Mahasiswa mempraktekkan pemakaian yukata, baju tradisional Jepang yang sering dipakai di musim panas. Dan pada kuliah keenam kami membahas tentang Momiji gari dan Bunka no hi (hari budaya).
Pada akhir musim gugur, suasana di Jepang sudah memerah penuh, sehingga banyak yang memanfaatkan liburan Sabtu Minggu untuk melihat momiji. Momiji gari adalah mirip dengan tradisi Hanami pada musim semi. Kalau pada musim semi mereka melihat berkembangnya bunga sakura, maka pada musim gugur mereka menyaksikan kouyou (紅葉) atau daun yang memerah dan menguning. Kata gari (狩り) dalam momiji gari (紅葉狩り) berarti berburu binatang. Yang kemudian dalam perkembangannya digunakan dalam banyak hal, termasuk melihat buah-buahan (Ringo gari, budou gari, ichigo gari, dll).
Untuk menggambarkan suasana yang memerah di Jepang, di dalam textbook sering disisipkan bait lagu anak-anak Jepang. Sudah ada dua lagu yang saya ajarkan kepada mahasiswa selama enam kali perkuliahan, yaitu Lagu Akatombo dan Lagu Momiji.
Bahasa yang dipergunakan dalam kedua lagu sangat indah, dan barangkali hanya orang yang punya kepekaan sastra yang bisa memahami keindahannya. Sekalipun sulit, saya selalu menyediakan terjemahan kosakata dan menerjemahkan syair lagu dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Sumber: lifestyle.lintas.me

Musim Panas


Kebiasaan Orang Jepang di Musim Panas


Musim panas di Jepang berlangsung selama bulan Juli hingga September. Sebenarnya hawa panas mulai masuk ke Jepang pada pertengahan bulan Juli. Oleh karena itu, dalam bulan-bulan ini, orang Jepang masih merasakan panas yang membakar.
Kalau ditanyakan kepada mereka, apakah suka dengan musim panas, banyak yang akan mengatakan tidak begitu suka karena hawa panasnya. Tetapi di lain pihak, banyak yang menyukainya, terutama anak-anak karena pada bulan Agustus mereka akan menjalani libur musim panas yang panjang.
Apa saja yang dilakukan oleh orang Jepang selama musim panas tersebut?
Sekalipun dikatakan berlangsung dari bulan Agustus, tetapi tradisi musim panas sebenarnya sudah terlihat pada pertengahan bulan Juli. Pada waktu ini, agar dapat melewati musim panas yang terik dalam keadaan sehat, orang Jepang biasanya menyampaikan sapaan/ucapan kepada orang yang dikenalnya. Sapaan itu disebut syochuumimai(暑中見舞い).
Agar tidak terkalahkan dengan teriknya musim panas, maka demi menjaga kesehatan, mereka mengkonsumsi unagi (belut) yang banyak mengandung zat nutrisi. Selain itu, sebagaimana pernah saya tulis dalam blog ini, unagi menggambarkan kegesitan bergerak. Di restoran, banyak dijual unagidon (nasi yang ditumpuki dengan unagi). Atau di Nagoya terkenal dengan hitsumabushi (ひつまぶし). Kalau datang ke Nagoya pada musim panas, sangat tepat menikmati makanan ini.
Selain itu, tentu saja makanan yang menyegarkan dan dingin sangat diminati. Makanya pada musim panas yang banyak terlihat di pasar adalah kakigori (es serut), semangka atau suika (スイカ), soumen (そうめん) atau mie dingin, tokoroten (心太) dan warabi mochi (わらび餅). Tokoroten adalah makanan kesukaan saya selama musim panas. Ialah sejenis konyaku yang diberi kuah aneka rasa, dan tentu saja dijual dengan harga sangat murah di supermarket. Sedangkan warabi mochi adalah makanan untuk menemani kalau saya bekerja lembur di kampus :-)

Para pekerja dan orang-orang dewasa, untuk mendinginkan badan, akan menghabiskan waktu sore harinya di Pier Garden (restoran) untuk menikmati bir dingin.Wajah-wajah mereka memerah karena hawa yang menyengat juga karena minuman keras yang diminumnya. Tetapi tampak kebahagiaan di sana. Ini salah satu cara orang Jepang yang sangat workaholic membebaskan diri dari stress.
Di bulan ini, para muda-mudi, juga orang-orang dewasa, dan anak-anak dengan mengenakan yukata (kimono musim panas) berwarna-warni cerah, mendatangi tempat-tempat penyelenggara hanabitaikai (花火大会) atau pesta kembang api. Biasanya di koran-koran, radio, internet atau selebaran iklan di kereta akan ada pemberitahuan hanabitaikai terbesar di wilayah Jepang. Sebelum mengunjungi hanabitaikai, sebaiknya dirancang jam berangkat dan jam pulang karena kendaraan umum sangat crowded. Kalau masalah cemilan yang akan dinikmati sepanjang acara tidak usah khawatir jika lupa membawa, karena di sepanjang area banyak sekali food stall (warung) dadakan yang menjual aneka makanan tradisional Jepang. Tetapi saya sarankan membawa air minum dan kipas, karena panasnya sangat menyengat. Tips lain, untuk menikmati kembang api dengan nyaman, bersegeralah mencari tempat duduk yang lapang, dan dengan pemandangan ke langit yang terbebas dari pepohonan. Kalau sudah duduk, tidak usah berniat pindah tempat lain, karena pasti akan kesulitan :-) . Dan tentu saja, jangan lupa mengabadikan momen kembang api tersebut dengan kamera Anda. Di Nagoya, hanabitaikai yang diminati adalah yang diselenggarakan di dekat Nagoya ko (pelabuhan). Sewaktu saya tinggal di daerah Minato ku, dari kamar saya di lantai 8, yang ada di salah satu asrama milik pemerintah Aichi, saya bisa melihat kembang api sepuasnya. Dan hanya dengan berjalan kaki, dapat mencapai areal pesta. Pesta kembang api lain yang lumayan besar yang pernah saya datangi adalah yang ada di dekat Okazaki Jou (Benteng Okazaki). Jarak tempuh ke sana memang agak jauh, dan kalau salah mengambil kereta, alamat akan berjalan kaki yang lumayan melelahkan.
Pada pertengahan bulan Juli orang Jepang mengirimkan ochuugen (お中元) atau bingkisan pertengahan tahun, berupa bir, makanan kaleng, teh, kopi, osoba, dll, yang dikirimkan kepada kenalan dan atasan, untuk menyampaikan salam memasuki musim panas, dan ucapan terima kasih atas bantuannya selama ini. Ochuugen akhir-akhir ini banyak yang dikirimkan, tetapi sebenarnya tradisinya adalah diantarkan sendiri, dengan mengenakan kimono untuk bepergian. Ochuugen biasanya dikemas dan dibungkus dengan kain bungkus yang indah.
Bulan Agustus diawali dengan kegiatan festival obon (お盆). Obon adalah masa untuk melakukan pemujaan kepada nenek moyang. Biasanya orang Jepang mudik dan berkumpul bersama keluarga, karena pada waktu itu, orang-orang yang telah meninggal diyakini akan pulang ke rumah. Festival obon biasanya berlangsung selama tiga hari. Pada hari-hari tersebut, masyarakat Jepang juga libur, dan dikenal dengan libur obon. Kapan dimulainya liburan obon, berbeda-beda untuk setiap daerah. Hal ini terjadi karena ketika sistem kalender Jepang berubah pada masa Meiji, yaitu dari sistem lunar menjadi sistem Gregorian (masehi), banyak yang tidak sepakat, dan akhirnya terpecah menjadi tiga kelompok perayaan obon, yaitu Obon yang diselenggarakan pada bulan 15 Juli disebut Shichigatsu Bon (七月盆), yang berdasarkan kalender solar, lalu yang berdasarkan kalender lunar adalah 15 Agustus atau hachigatsu bon (八月盆), sementara yang satu lagi adalah 15 bulan ke-7 pada sistem kalender lunar, yang disebut kyuu bon (旧盆) dan ini akan berbeda setiap tahunnya. Sekalipun hanya 3 hari, jika berbarengan dengan sabtu dan minggu atau hari libur lainnya, maka hari libur obon akan bertambah.  Obon adalah salah satu hari raya dalam agama Buddha. Selain kegiatan di rumah, diselenggarakan pula Bon Odori (tarian Obon) yang biasa dilakukan dari sore hingga malam hari oleh warga setempat.
Kemudian kalau pernah pergi ke Kyoto, maka ada satu bukit/gunung yang bertuliskan huruf dai (大) yang berarti besar, dalam bentuk yang sangat besar, dan segera tampak kalau kita mengarah ke pegunungan Kyoto. Ini disebut daimonji yama (大文字山). Di Kyoto, saat akhir festival obon, yaitu tanggal 16 Agustus, huruf dai di gunung tersebut bersama dengan huruf-huruf lain yang keseluruhannya ada di lima gunung akan dinyalakan sebagai pertanda mengantar arwah kembali ke asalnya. Festival ini disebutGozan no okuribi (五山の送り火) atau api yang mengantarkan (arwah) dari lima gunung.
Api yang pertama akan mulai dinyalakan pada pukul 20.00 dari kuil Joudoji yanga ada di Gunung Daimonji, lalu dilanjutkan ke empat gunung lainnya, yaitu api berbentuk Myouhou (妙法) yang akan dinyalakan pada pukul 20.10 dari Gunung Higashi atau Gunung Nishi. Myouhou artinya hukum yang mengagumkan. Selanjutnya pada pukul 20.15 akan dinyalakan funagata (舟形) atau api berbentuk perahu dari Gunung Funa, dan pada pukul 20.15 juga akan dinyalakan api berbentuk huruf hidari daimonji (左大文字) atau huruf dai dari arah kiri, di Gunung Hidaridaimonji. Dan yang terakhir pada pukul 20.20 akan dinyalakan api berbentuk torii, yang disebut toriigata (鳥居形) yaitu pembatas antara kehidupan manusia dengan kehidupan suci, bentuknya seperti gerbang tanpa pintu berwarna merah, dan biasanya ada di pintu masuk kuil Shinto. Kelima api tersebut akan menyala selama 30 menit.
Pada bulan September sebenarnya hawa musim gugur sudah mulai terasa. Biasanya akan turun hujan awal musim gugur yang disebut akisame (秋雨). Tanggal 1 September, warga Jepang memperingati hari pengendalian bencana atau bousai no hi (防災の日). Pada hari itu, mereka melakukan latihan besar-besaran untuk menghadapi bencana. Mengapa bulan September ? Saya kira karena pada akhir September dan awal Oktober, banyak sekali bencana terjadi di Jepang, termasuk angin topan yang sering datang pada bulan-bulan ini. Jadi, sebagai persiapan mereka menetapkan hari tersebut sebagai hari bersiap-siap menghadapi bencana. Dengan peringatan ini, warga seakan diingatkan untuk mengecek kembali barang-barang yang selama ini disiapkan sebagai barang siap bawa kalau terjadi bencana.
Pada pertengahan bulan September diselenggarakan hari orang tua atau koureisya no hi(高齢者の日). Apa yang dilakukan pada hari itu? Umumnya anak-anak diajak oleh orang tuanya untuk mengunjungi kakek neneknya dan menghibur mereka pada hari tersebut. Sekolah-sekolah juga mengadakan kegiatan kunjungan ke panti jompo.

Sumber: murniramli.wordpress.com

Kamis, 14 Februari 2013

Kebiasaan Mandi


Kebiasaan Mandi
Bagi kebiasaan orang Indonesia, mandi sebagai kegiatan pembuka aktivitas di hari itu. Pemisah antara masih ingin berleha-leha dan siap untuk beraktivitas adalah mandi. Coba saja di akhir pekan, biasanya malas mandi karena masih ingin berleha-leha. Kalau sudah mandi bawaanya seger, gak pengen malas-malasan lagi.
Tapi, bagi kebiasaan orang Jepang, mandi dipandang sebagai kegiatan penutup di hari itu. Saat mereka akan beranjak ke pembaringan, biasanya suka mandi dulu atau berendam di ofuro (bak rendam). Dengan begitu, mereka merasa relaks setelah seharian beraktivitas. Makanya, orang Jepang mandinya suka larut malam.
Menariknya, orang Jepang hanya mandi satu kali dalam sehari, yaitu saat akan tidur saja. Pagi-pagi, mereka tidak akan mandi lagi, tapi hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu mereka langsung berangkat ke tempat aktivitasnya masing-masing.
Bagi saya saat pertama kali mendengar ceritanya Takuya san, saya agak risih juga karena kebiasaan tersebut berbeda dengan budaya di kita. Kalaupun kita hanya mandi sekali dalam sehari, itu pun dilakukan di pagi hari saat akan berangkat ke tempat aktivitas. Malamnya kita (ya, kita!) tidak mandi lagi karena malas atau cuaca dingin.
Orang Jepang beranggapan bahwa badan mereka kotor setelah seharian beraktivitas, jadi mandi dilakukan sebelum tidur. Dan mereka menganggap juga saat bangun tidur, badan mereka masih bersih jadi tidak perlu mandi lagi. Hanya membersihkan dan menyegarkan muka (bagian kepala).
Saat musim panas pun ternyata orang Jepang mandi hanya sekali, yaitu saat sebelum tidur. Kalau saya sih,..kalau bukan 2 bisa 3 kali mandi,.. tergantung juga.
Pertimbangannya adalah di musim dingin kita tidak (sering) mengeluarkan keringat. Jadi, badan tidak bau keringat dan baju biasanya bisa dipakai dua hari. Cucian pun lebih sedikit dan hemat air. Pertimbangan lain, kalau mandi harus pakai air hangat yang akan meningkatkan tagihan gas. Maklum, konsumsi listrik dan gas biasanya meningkat saat musim dingin.
Tapi, kebiasaan mandi saya tidak mengikuti kebanyakan orang Jepang, yaitu mandi sebelum tidur. Karena sugesti yang tertanam di pikiran saya kalau mandi malam itu bisa membuat rematik (penyakit tulang). Saya mandi di pagi hari saat akan berangkat beraktivitas.
Belakangan saya ternyata menyadari juga, bahwa sebenarnya lebih efektif mandi sekali sebelum tidur. Pertimbangannya, justru mandi itu dilakukan untuk menutup hari dan membersihkan badan. Saat kita tidur, badan lebih bersih dan kualitas tidur (seharusnya) lebih baik. Bakteri dan virus yang kita bawa ke rumah setelah beraktivitas di luar juga bisa diminimalisasi dengan mandi malam. Sampai sekarang saya belum pernah coba,..  :)
Belakangan ini juga lagi wabah influenza, orang-orang Jepang sangat strict terhadap wabah penyakit. Sampai-sampai dilarang masuk kampus bagi yang sedang influenza. Maka, saya pikir memang baiknya mandi malam. Tapi, orang tua saya suka bilang, jangan mandi malam-malam karena khawatir akan rematik.

Sumber: rizaldp.wordpress.com

Selasa, 12 Februari 2013

Festival


Tahun baru

Tahun baru (正月 shōgatsu) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari. Dalambahasa Jepang, kata "shōgatsu" dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama pada awal tahun.
Istilah "shōgatsu" juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内?) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansaiberlangsung hingga koshōgatsu (小正月?, tahun baru kecil) tanggal 15 Januari.
Tanggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagianATM yang masih melayani transaksi.
Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 Januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mal dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.


Istilah


Hiasan tahun baru di tokonoma
Tanggal 1 Januari disebut ganjitsu (元日, hari pertama), sedangkan pagi hari 1 Januari disebut gantan (元旦, pagi pertama). Perayaan tahun baru berlangsung selama tiga hari yang disebut sanganichi (三が日, 3 hari).
Bagi sebagian orang, tahun baru belum berakhir sampai tanggal 20 Januari yang disebut hatsuka shōgatsu (二十日正月, tahun baru tanggal 20), saat semua hiasan tahun baru sudah harus disimpan. Di daerah Kansai, Hatsuka shōgatsu dikenal sebagai honeshōgatsu (骨正月?, tahun baru tulang) karena biasanya pada hari tersebut, ikan masakan tahun baru sudah habis dimakan sampai ke tulang-tulangnya.
Kegiatan menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua atau tiga minggu sebelum pergantian tahun. Di daerah Kanto, hari persiapan tahun baru yang disebut o-koto hajime (お事始め?, awal kegiatan) jatuh pada 8 Desember, sedangkan di daerah Kansai pada 13 Desember.

Tradisi

Di zaman dulu, kalender Jepang didasarkan pada kalender Tionghoa, sehingga orang Jepang merayakan tahun baru pada awal musim semi, bersamaan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea, dan Tahun baru Vietnam. Pada tahun 1873, pemerintah Jepang mulai menggunakan kalender Gregorian sehingga tahun baru ikut dirayakan tanggal 1 Januari.
Di Jepang, penghormatan terhadap arwah leluhur dilakukan sebanyak dua kali, di musim panas sewaktu merayakan obon dan pada awal tahun baru. Sewaktu merayakan tahun baru, arwah leluhur dipercaya datang sebagai Toshigami (年神?, dewa tahun) yang memberi berkah dan kelimpahan sepanjang tahun.
Tahun baru pernah digunakan untuk merayakan bertambahnya usia. Tradisi ini dilakukan semasa orang Jepang masih mengikuti cara perhitungan usia yang disebutkazoedoshi. Bayi dianggap sudah berumur 1 tahun sewaktu dilahirkan dan usia bertambah setahun pada tanggal 1 Januari. Pada tahun 1902, perhitungan cara kazoedoshi digantikan sistem umur bertambah sewaktu berulang tahun (man-nenrei) yang lazim digunakan di seluruh dunia.

Malam tahun baru

Hari tanggal 31 Desember atau malam tahun baru disebut ōmisoka. Di malam tahun baru, orang Jepang mempunyai tradisi memakan soba yang disebut toshikoshi soba.
Stasiun televisi di Jepang bersaing memperebutkan pemirsa dengan berbagai acara malam tahun baru. NHK mempunyai tradisi menayangkan acara Kōhaku Uta Gassen, berupa kompetisi lagu antarpenyanyi terkenal yang dibagi menjadi kubu merah dan kubu putih.
Menjelang pukul 12 malam, genta yang terdapat di berbagai kuil agama Buddha di Jepang dibunyikan. Tradisi memukul genta menjelang pergantian tahun disebut joya no kane. Genta dibunyikan sebanyak 108 kali sebagai perlambang 108 jenis nafsu jahat manusia yang harus dihalau.

Kunjungan ke kuil

Hari-hari pada awal tahun baru ditandai dengan hatsumōde berupa kunjungan pertama ke kuil agama Shinto dan Buddha. Di depan kuil-kuil besar, selepas pergantian tahun sudah bisa dijumpai kerumunan orang yang menunggu pintu kuil dibuka. Doa yang disampaikan biasanya berupa harapan agar sehat dan selamat sepanjang tahun.

Makanan tahun baru

Osechi adalah sebutan untuk masakan istimewa yang dimakan pada tahun baru. Sup zōni dari kuah dashi yang berisi mochi dan sayuran merupakan salah satu masakan osechi. Berbagai macam lauk masakan osechi dimasak berhari-hari sebelumnya dan diatur di dalam kotak kayu bersusun yang disebut jūbako (重箱?). Toko swalayan besar sejak beberapa minggu sebelum tahun baru juga sudah membuka pemesanan osechi. Lauk pada masakan osechi biasanya sangat manis atau asin, seperti: kuromame, tatsukuri (gomame), kombumaki, kamaboko, kurikinton, kazunoko, dan datemaki. Makanan tahun baru diharapkan bisa tahan lama, karena tahun baru merupakan kesempatan libur memasak bagi ibu rumah tangga di Jepang.
Ikan yang dimasak berbeda menurut daerahnya, di Jepang bagian timur digunakan ikan salem sedangkan di Jepang bagian barat digunakan ikan sunglir (buri). Beberapa daerah juga memiliki masakan khas yang tidak bisa dinikmati di tempat lain. Daerah Kansai memiliki masakan khas berupa ikan cod kering (bōdara) yang dimasak dengan gula pasir dan shōyu.
Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput. Bubur ini dimakan tanggal 7 atau 15 Januari agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru.

Mochi

Acara menumbuk mochi (mochitsuki) merupakan salah satu tradisi menjelang tahun baru. Ketan yang sudah ditanak dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk denganalu. Satu orang bertugas menumbuk, sedangkan seorang lagi bertugas membolak-balik beras ketan dengan tangan yang sudah dibasahi air. Beras ketan ditumbuk hingga lengket dan membentuk gumpalan besar mochi berwarna putih.
Selain dimakan sebagai pengganti nasi selama tahun baru, mochi juga dibuat hiasan tahun baru yang disebut kagami mochi. Secara tradisional, kagami mochi dibuat dengan cara menyusun dua buah mochi berukuran bundar, ditambah sebuah jeruk di atasnya sebagai hiasan.

Kartu pos tahun baru


Alat tulis untuk menulis kartu pos tahun baru
Orang Jepang mempunyai tradisi berkiriman kartu pos nengajō (年賀状?, ucapan tahun baru) yang tiba persis tanggal 1 Januari. Kartu pos ucapan tahun baru dijamin sampai ke alamat yang dituju pada tanggal 1 Januari, asalkan dikirim tidak melewati jangka waktu penerimaan yang ditetapkan kantor pos. Penerimaan kartu pos biasanya dimulai pertengahan Desember hingga beberapa hari terakhir sebelum penutupan tahun. Kantor pos membutuhkan pegawai ekstra yang direkrut dari kalangan pelajar, agar semua kartu pos bisa disampaikan tanggal 1 Januari.
Sebagai penghormatan terhadap orang yang meninggal, anggota keluarga yang baru ditinggalkan tidak merayakan tahun baru dan tidak mengirim kartu pos tahun baru. Sebagai gantinya, anggota keluarga yang baru ditimpa musibah mengirim kartu pos berisi pemberitahuan tidak bisa mengirim kartu pos ucapan tahun baru.
Setiap tahunnya, Kantor Pos Jepang memiliki tradisi mencetak kartu pos dengan tema yang berbeda-beda. Kartu pos dihiasi dengan lukisan tempat terkenal di Jepang dan gambar binatang Shio untuk tahun yang baru. Kartu pos tahun baru yang diterbitkan kantor pos juga memiliki nomor undian yang diundi pada awal tahun. Penerima kartu pos yang beruntung bisa memenangkan berbagai hadiah berupa barang. Selain di kantor pos, kartu pos ucapan tahun baru juga bisa dibeli di berbagai tempat. Kartu pos yang dijual di toko buku memiliki pilihan gambar yang lebih banyak, tapi sering masih perlu ditempeliprangko.
Kartu pos ucapan tahun baru bisa ditulisi sendiri dengan berbagai pesan dan ucapan. Gambar binatang atau kalimat ucapan standar bisa ditambahkan dengan menggunakan stempel karet beraneka warna yang dijual di toko buku atau stempel yang disediakan di kantor pos. Kartu pos ucapan tahun baru sering digunakan untuk memamerkan kemampuan menulis indah bagi pengirim yang pandai menulis kaligrafi. Pemilik komputer pribadi bisa menggunakan perangkat lunak khusus untuk mencetak kartu pos. Bagi orang yang memiliki banyak kenalan dan relasi, kartu pos biasanya sudah ditulisi sejak awal bulan Desember.
Berbagai ucapan selamat tahun baru yang umum:
  • Kotoshi mo yoroshiku onegai shimasu (今年もよろしくお願いします?)
  • Akemashite omedetō gozaimasu (あけましておめでとうございます?, Selamat tahun baru)
  • Kin-ga shinnen (謹賀新年?, Mengucapkan tahun baru)

Otoshidama


Amplop untuk otoshidama
Orang Jepang mempunyai tradisi memberikan angpao yang dikenal dengan sebutan otoshidama (お年玉?). Sewaktu memberikan otoshidama untuk anak-anak, sejumlah uang kertas yang masih baru atau uang logam dimasukkan ke amplop kecil bernama pochibukuro (otoshidama-bukuro) yang berhiaskan aneka gambar kesukaan anak-anak. Otoshidama sangat ditunggu-tunggu anak-anak di Jepang, terutama bila memiliki paman atau bibi yang murah hati.

Kesenian dan permainan

Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut kakizome (kaligrafi pertama).
Tahun baru juga dirayakan dengan berbagai permainan, seperti: permainan fukuwarai (meletakkan gambar bagian-bagian wajah, seperti hidung, alis mata, dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), hanetsuki (bulu tangkis tradisional), menaikkan layang-layang (takoage), gasing (koma), bermain dadu (sugoroku), dan permainan memungut kartu yang disebut karuta.
Sumber: Wikipedia

Festival


Festival Balon Ojiya
Festival Balon Ojiya (おぢや風船一揆 Ojiya Fūsen Ikki) adalah festival balon udara panas dan kembang api yang diadakan di kota Ojiya, Prefektur Niigata, Jepang. Festival ini berlangsung selama dua hari pada setiap akhir bulan Februari.
Dalam acara ini diterbangkan sekitar 40 balon udara panas dari seluruh Jepang dalam rangka Kejuaraan Lintas Alam-Piala Laut Jepang (Nihonkai Cup-Cross Country Senshuken). Acara istimewa diadakan pada malam di hari pertama berupa pesta kembang api dan pesta lentera salju. Balon udara panas dalam berbagai warna berikut pesan sponsor menjadi bercahaya diterangi api dari alat pembakar (burner). Di siang hari, pengunjung bisa mencoba menaiki balon udara panas, parasailing, dan naik kereta salju. Bila lapisan salju kurang atau cuaca buruk, maka festival bisa saja dibatalkan.

Sejarah

Lokasi penyelenggaraan di tengah padang salju
Festival Balon Cahaya dan kembang api di malam hari
Festival ini dimulai pertama kali pada tahun 1977 dengan jumlah peserta hanya 7 balon udara panas. Pada tahun 1982, festival ini diganti namanya menjadi Festival Padang Salju Ojiya (Ojiya Setsugen Matsuri). Nama festival diganti kembali menjadi Festival Balon Ojiya sejak tahun 1994 setelah diadakan acara balon cahaya (Glow Baloon Festival).
Festival ini semakin bertambah besar dari tahun ke tahun, namun sangat bergantung pada keadaan cuaca. Bila cuaca buruk, penyelenggaraan bisa dibatalkan. Jumlah balon yang diikutsertakan juga bisa bertambah atau berkurang bergantung kondisi cuaca.
Pada tahun 2005, festival ini resminya tidak diselenggarakan akibat tahun sebelumnya terjadi Gempa bumi Chūetsu 2004. Walaupun demikian, festival diselenggarakan juga secara informal pada tahun 2005. Peserta memberinya nama 2005 Fūsen Ikki Fukkō no Jin (Festival Balon 2005 Formasi Pembangunan Kembali). Secara resmi festival diadakan kembali sejak tahun 2006.

Lokasi

Festival dilangsungkan di padang salju yang berada 2 hingga 3 km dari pusat kota Ojiya. Lokasi sebenarnya merupakan kawasan sawah dan jalan yang tertutup salju sehingga tidak ada halangan bagi penerbangan balon udara panas.
Sumber: Wikipedia

Festival


Aoi Matsuri
Aoi Matsuri (葵祭) adalah matsuri yang dilangsungkan setahun sekali pada bulan Mei di Kyoto, Jepang. Puncak perayaan adalah prosesi Rotō no gi (upacara di jalan) yang berlangsung 15 Mei di dalam kota Kyoto. Aoi Matsuri adalah salah satu dari tiga perayaan terbesar di Kyoto bersama-sama dengan Gion Matsuri dan Jidai Matsuri.
Prosesi Rotō no gi merupakan rekonstruksi dari iring-iringan pejabat istana yang menuju Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamountuk membawa pesan dan persembahan dari kaisar. Pria dan wanita peserta prosesi mengenakan pakaian berwarna-warni seperti dikenakan kalangan bangsawan Jepang di zaman Heian. Wanita dan anak-anak peserta iring-iringan memakai rias wajah yang tebal seperti tata rias panggung.
Perayaan ini disebut Aoi Matsuri karena daun tanaman Asarum caulescens (bahasa Jepang: Futaba Aoi) dijadikan hiasan selama perayaan, termasuk hiasan pada tutup kepala dan atap tandu. Aoi Matsuri sudah dicatat dalam literatur Jepang sebelum abad pertengahan. Dalam cerita Hikayat Genji dikisahkan tentang istri Hikaru Genji, Aoi no Ue yang datang terlambat lalu berebut tempat dengan Rokujō no Miyasundokoro (kekasih suaminya) untuk dapat melihat prosesi.

Di masa pemerintahan Kaisar Kimmei (540-571) terjadi kegagalan panen akibat cuaca buruk berkepanjangan. Rakyat dilanda wabah penyakit dan kelaparan, sehingga kaisar mengirim utusan ke Kuil Kamo untuk menyampaikan pesan dan persembahan. Musibah berakhir dan pejabat istana secara tetap mengunjungi Kuil Kamo. Upacara diadakan di dua kuil Kamo sehingga disebut Kamo Matsuri.

Sejarah

Di pertengahan zaman Heian, bila hanya disebut "matsuri" maka yang dimaksudkan adalah Kamo Matsuri. Di zaman Kamakura dan Muromachi, prosesi tidak dilangsungkan akibat perang berkepanjangan. Perayaan dihidupkan kembali di Edo sekitar zaman Genroku. Ketika ibu kota dipindahkan ke Tokyo pada tahun 1869, prosesi Aoi Matsuri juga tidak dilangsungkan.[1]
Aoi Matsuri kembali dilangsungkan di Kyoto pada tahun 1884 dengan maksud untuk menghidupkan kembali kota Kyoto. Selama Perang Dunia II, upacara Shatō no Gi tetap dilangsungkan, tapi tidak diadakan prosesi. Prosesi Aoi Matsuri kembali diadakan tahun 1953, dan diselenggarakan setiap tahun hingga sekarang.

Jadwal matsuri

Aoi Matsuri dilangsungkan dari awal Mei hingga puncak upacara berupa prosesi 15 Mei.

Awal upacara

  • Yabusame Shinji
Upacara di Kuil Shimogamo untuk mendoakan keselamatan selama perayaan berlangsung. Penunggang kuda dengan kostum prajurit zaman Heian mempertontonkan keterampilan memanah dari atas punggung kuda yang sedang berlari.
  • Saiō-dai Misogi Shinji
Wanita yang berperan sebagai Saiō-dai (bintang utama dalam prosesi) dan pengikutnya disucikan dalam upacara yang dilakukan secara bergantian setiap tahunnya di Kuil Kamigamo dan Kuil Shimogamo.
  • Busha Shinji
Upacara melepaskan anak panah untuk menghalau arwah jahat yang dilangsungkan di Kuil Shimogamo.
  • Kamo Kurabe Uma
Upacara memacu kuda sekencang-kencangnya di dalam lingkungan Kuil Kamigamo untuk memeriksa kondisi dan kesehatan kuda.
  • Mikage Matsuri
Upacara penyambutan kedatangan arwah suci di Kuil Shimogamo dari Kuil Mikage di Gunung Hiei . Tari dan musik tradisional dipersembahkan di hutan bernama Tadasu no Mori, Kuil Shimogamo.
  • Miare Shinji
Upacara tertutup yang dilangsungkan malam hari di Kuil Kamigamo. Tidak terbuka untuk umum.

Puncak upacara (15 Mei)

  • Prosesi Rotō no Gi
Prosesi dimulai dari Istana Kyoto (Kyoto Gosho) menuju Kuil Kamigamo dengan melewati Kuil Shimogamo. Puncak prosesi adalah barisan wanita pengiring bintang prosesi yang disebut Saiō-dai.
  • Shatō no Gi
Upacara pembacaan pesan dan penyerahan persembahan di Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamo.

Saiō-dai dan barisan wanita

Pada zaman Heian, bintang utama dalam prosesi adalah seorang wanita yang disebut Saiō (斎王?). Peran Saiō dipercayakan kepada salah seorang putri Kaisar Sagayang diutus sebagai miko di Kuil Kamo. Di zaman sekarang, wanita yang memerankan Saiō disebut Saiō-dai (斎王代 wakil Saiō?) karena dipilih dari rakyat biasa. Wanita yang dipilih sebagai Saiō-dai harus belum menikah dan berasal dari kota Kyoto.
Saiō-dai memakai rias wajah tebal dan gigi yang dihitamkan (Ohaguro). Jenis kimono yang dikenakan Saiō disebut Jūnihitoe (Karaginu Moshōzoku). Barisan wanita yang mengelilingi Saiō-dai selama iring-iringan terdiri dari anak perempuan yang disebut Menowarawa, dan wanita yang berperan sebagai penunggang kuda, pelayan wanita (Uneme), dan pegawai istana.

Sumber: Wikipedia

Festival


Festival Salju Sapporo
Festival Salju Sapporo (さっぽろ雪まつり Sapporo Yuki Matsuri) adalah festival salju terbesar di Jepang yang diadakan di kota Sapporo, Hokkaido. Festival ini dilangsungkan selama seminggu pada awal bulan Februari. Setiap tahunnya sekitar dua juta wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri berkunjung ke Sapporo selama berlangsungnya festival.[1]
Sejak tahun 2006, festival ini diadakan di tiga lokasi: Taman Odori, Susukino, dan Sapporo Satoland. Di lokasi Taman Odori dipamerkan ukiran es dan salju berukuran sangat besar, termasuk pahatan es berbentuk miniatur bangunan terkenal. Pameran ukiran es yang lebih kecil diadakan di Susukino, sementara acara untuk keluarga diadakan di Sapporo Satoland.

Festival pertama

Sejarah


Festival Salju Sapporo di lokasi Satoland


Festival salju Sapporo pertama kali diselengarakan tahun 1950 oleh dinas pariwisata Sapporo dan pemerintah kota Sapporo, dengan sponsor surat kabar lokal Hokkai Times. Di Sapporo sebenarnya pernah dilangsungkan berbagai festival salju, namun terhenti sewaktu Perang Dunia II.
Ide membuat patung dari salju diambil dari festival salju yang diadakan tahun 1935 oleh murid-murid sebuah SD di kota Otaru. Festival yang pertama bermodalkan 6 buah patung salju buatan siswa SMP dan SMU kota Sapporo, ditambah festival salju di depan stasiun Hokkaido yang diadakan Japanese National Railways (sekarang disebut JR). Festival dimeriahkan dengan kontes, senam, perlombaan, tari, dan pemutaran film.

Perkembangan


Pada festival salju yang pertama, tinggi patung dibatasi hingga 7 meter. Di festival ke-4 (1953), batasan tinggi dihapus dan siswa sekolah menengah kejuruan kota Hokkaido membangun ukiran es yang tingginya 15 meter. Salju yang diperlukan berjumlah sangat banyak hingga perlu bantuan pinjaman truk dan buldoser dari pemerintah kota Hokkaido. Sejak itu, pemerintah kota Hokkaido selalu meminjamkan alat-alat berat sehingga bisa dibangun ukiran es dan salju berskala besar.
Pada festival ke-5 (1954) mulai ikut dipamerkan patung salju sumbangan penduduk kota. Festival yang ke-6 (1955) ditandai dengan makin banyaknya peserta. Bangunan dalam berbagai bentuk yang dibuat pasukan bela diri Jepang, perusahaan swasta, pemerintah kota, dan berbagai sponsor mulai ditata rapi.
Sejak sekitar festival ke-10 (1959), wisatawan dari luar Hokkaido mulai banyak yang datang untuk melihat festival salju Sapporo. Festival tahun 1972 diadakan bersamaan dengan penyelenggaraan olimpiade musim dingin tahun 1972 dan ikut diperkenalkan di luar negeri. Sejak itu, festival ini mulai dijadikan tujuan oleh wisatawan asing. Sejak tahun 1974, festival dimeriahkan lomba internasional seni pahat es dan salju yang diikuti seniman pemahat dari berbagai kota besar di dunia.
Lokasi pameran patung es di Susukino berasal dari acara lokal yang diadakan pertama kali tahun 1981, dan baru menjadi bagian festival salju Sapporo di tahun 1983. Dari festival ke-41 (tahun 1990) hingga festival ke-42 (tahun 1992), festival salju Sapporo pernah dilangsungkan di 4 lokasi, tapi lokasi ke-4 ditutup karena sedikitnya jumlah pengunjung dan ukiran salju yang dipamerkan.

Sumber: Wikipedia

Senin, 04 Februari 2013

Festival


Matsuri

Matsuri () adalah istilah agama Shinto yang berarti persembahan ritual untuk Kami. Dalam 
pengertian sekuler, matsuri berarti festival atau perayaan di Jepang. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut kunchi.
Berbagai matsuri diselenggarakan sepanjang tahun di berbagai tempat di Jepang. Sebagian besar penyelenggara matsuri adalah kuil Shinto atau kuil Buddha. Walaupun demikian, ada pula berbagai "matsuri" (festival) yang bersifat sekuler dan tidak berkaitan dengan institusi keagamaan.
Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.
Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan mikoshi, dashi (danjiri) dan yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai chigo (anak kecil dalam prosesi), miko (gadis pelaksana ritual), tekomai (laki-laki berpakaian wanita), hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar malam beraneka makanan dan permainan.

Sejarah

Matsuri berasal dari kata matsuru (祀る, menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.
Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta.
Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.
Sumber: Wikipedia